Makna Ihsan

Makna Ihsan


MAKNA IHSAN

Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam pernah ditanya oleh malaikat jibril yang ketika itu, malaikat jibril menjelma sebagai seorang laki-laki yang pakainya sangat putih, rambutnya sangat hitam, beliau bertanya "Beritahukan kepadaku tentang Ihsan"?
Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam menjawab : "Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalaupun engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu" (Shahih : HR.Muslim no 8)

SYARAH HADIS
Ihsan adalah ikhlas dan penuh perhatian. Artinya, sepenuhnya ikhlas untuk beribadah hanya kepada Allah dengan penuh perhatian, sehingga seoalah-olah engkau melihatNya. Jika tidak mampu, maka ingatlah bahwa Allah senantiasa melihatmu dan mengetahui apapun yang ada pada dirimu.

Sabda Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam "Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya" (hadis ini) mengisyaratkan bahwa seorang hamba yang menyembah Allah dalam keadaan seperti itu berarti merasakan kedekatan dengan Allah dan bahwa ia merasa berada dihadapan Allah sehingga seolah-olah ia dapat melihat Allah. Hal ini akan menimbulkan rasa takut, segan dan mengagungkan Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Abu Hurairah: "Hendaknya engkau takut kepada Allah seoalah-olah engakau melihat-Nya"(HR.Muslim no 10)

Ibadah seperti ini juga menghasilkan ketulusan dalam ibadah dan berusaha keras untuk memperbaiki dan menyempurnakanya.

Tentang sabda Nabi shallallahu 'alahi wa sallam: "Jika engkau tidak dapat melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu" ada yang mengatakan bahwa sabda tersebut merupakan penjelasan sabda sebelumnya bahwa jika seseorang hamba diperintahkan agar merasa diawasi oleh Allah dalam ibadah dan merasakan kedekatan Allah dengan hamba-Nya sehingga hamba tersebut seolah-olah melihatNya, maka bisa jadi hal tersebut tidak terjadi baginya. Untuk itu, hamba tersebut harus menggunakan imanya bahwa Allah pasti melihat dirinya, mengetahui rahasianya, baik yang diperlihatkanya atau tidak, mengetahui bathin dan zhahirnya, dan semua  yang ada pada dirinya diketahui oleh Allah.

Jika seorang hamba tersebut merealisasikan keadaan seperti itu, maka mudah baginya untuk beranjak kepada keadaan yang kedua, yaitu terus menerus melihat kedekatan Allah dengan hambaNya dan kebersamaan Allah dengan hamba-Nya, hingga hamba tersebut seolah-olah melihat-Nya.

Referensi
Syarah Arba'in An-Nawawi, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. III Pustaka Imam Syafi'i- Jakarta th. 2015




share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Seneng Widodo, Published at 4:13 PM and have 0 comments

No comments:

Post a Comment