Bantahan untuk Orang Musyrik (1):
Memahami Tauhid dan Ibadah
Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa tauhid itu berarti
mengesakan Allah dalam ibadah. Tauhid ini adalah ajaran para rasul di mana
Allah mengutus para Rasul untuk beribadah kepada-Nya.
Demikian bagian pertama yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi
ketika membahas berbagai argumen orang musyrik dalam membela kesyirikannya.
Apa yang Dimaksud Tauhid?
Seperti kita ketahui bersama bahwa tauhid berasal dari mashdar wahhada-yuwahhidu-tauhidan,
secara bahasa berarti menjadikan sesuatu menjadi satu. Sedangkan yang dimaksud
dalam pembahasan Syaikh Muhammad adalah mengesakan Allah dalam ibadah yaitu
menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang berhak untuk diibadahi.
Apa yang Dimaksud Ibadah?
Apa yang dimaksud ibadah? Ibadah secara bahasa berarti tunduk dan merendahkan
diri. Sedangkan menurut istilah syar’i, ada berbagai macam versi yang
disampaikan oleh para ulama. Ada tiga definisi yang bisa kami sebutkan kali
ini:
1- Ibadah adalah sesuatu yang dituntut oleh syari’at dan diberikan ganjaran
ketika mengerjakannya. Hal ini disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
ketika membicarakan masalah wudhu.
2- Ibadah adalah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan
diridhoi oleh Alah yang mencakup perkataan dan perbuatan yang lahir maupun
batin. Hal ini disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam kitab Al ‘Ubudiyah.
3- Ibadah adalah segala sesuatu yang dituntut untuk dilakukan tanpa memakai
pertimbangan logika atau ‘urf (kebiasaan). Demikian yang biasa
dijelaskan ulama ushul ketika mendefinisikan ibadah.
Dari berbagai macam versi definisi ibadah berarti jika ada sesuatu amalan
yang mencakup definisi tersebut, maka hanya boleh ditujukan pada Allah saja.
Jika ditujukan pada selain Allah, itulah syirik. Amalan batin termasuk ikhlas,
bertawakkal, takut, harap dan cinta hanya boleh ditujukan pada Allah semata.
Begitu pula amalan lahiriyah seperti do’a, isti’anah (meminta tolong) dan
istighotsah (meminta tolong setelah tertimpa musibah), itu semua harus
ditujukan pada Allah saja.
Dakwah Para Rasul, Dakwah Anti Syirik
Perintah tauhid atau mengesakan Allah dalam ibadah menjadi dakwah rasul.
Tidak ada seorang rasul pun diutus untuk menyampaikan suatu amalan kecuali
diawali dengan menjelaskan tauhid terlebih dahulu. Ketika halal dan haram
dijelaskan, dakwah anti syirik tetap didahulukan. Karena menjauhi kesyirikan
dan mentauhidkan Allah itulah yang menjadi hikmah diciptakannya manusia. Allah Ta’ala
berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ
إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
beribadah (mentauhidkan)-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).
Dakwah para rasul adalah untuk mentauhidkan Allah dan meninggalkan tradisi
kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ
رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An
Nahl: 36).
Demikian serial pertama dari pembahasan dalam kitab Kasyfu Syubuhat. Moga
Allah semakin mengokohkan tauhid kita. Wallahu waliyyut taufiq.
Referensi:
Kitab Kasyfu Syubuhat, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, naskah bersanad
dari guru kami Syaikh Sholih bin ‘Abdillah bin Hamad Al ‘Ushoimi, dalam
Muqorrorot Barnamij Muhimmatul ‘Ilmi, cetakan ketiga, 1434 H.
Syarh Kasyfu Syubuhaat, Syaikh Sholih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, terbitan
Maktabah Darul Hijaz, cetakan pertama, tahun 1433 H.
—
Disusun di Pantai Drini, Gunungkidul saat rekreasi dengan para santri Pesantren Darush
Sholihin, 25 Sya’ban 1434 H
Sumber: Artikel Rumaysho.Com
Posted by , Published at 8:56 AM and have
0
comments

No comments:
Post a Comment